Minggu, 20 November 2016

SUKA DUKA MERANTAU DI TANAH ORANG..


SUKA DUKA MERANTAU DI TANAH ORANG

Hari ini aku menangis sesenggukan, bukan karena putus cinta, bukan seperti itu. Ini mungkin lebih rumit daripada yang aku bayangkan
Dulu,
Setelah aku lulus SMA, aku putuskan untuk merantau MALANG. Orang tuaku pasti tidak menyetujui, dan benar adanya. Orang tua mana yang ingin kehilangan anak laki-laki pergi meratau ke kota orang yang tak ada saudara satupun di sana. Tapi aku bersikukuh untuk tetap melanjutkan anganku untuk bisa mendapatkan  penagalaman yang banyak. Orang tuaku murka, terutama ayahku. Ayah yang sangat menyayangiku itu aku biarkan berlinang air mata melepas kepergianku. Aku memang terlalu egois, tak pernah mendengar nasihat orang tua, tak pernah mendengar kata-kata dari setiap orang tentang kejamnya Malang.

Kini, waktu semakin cepat berlalu. Tak terasa sudah enam tahun aku berada di tanah orang, jauh dari ayah, ibu dan adikku. Di sini aku bekerja sebagai penjual bakso  di sebuah warung  yang bergerak di bidang bisnis. Karena kecintaanku terhadap dunia bisnis, aku mulai mencari peluang untuk melamar kerja menjadi seorang bisnis. Sebagaimana pendidikan yang pernah aku tempuh dulu sewaktu kuliah yang memang mengambil jurusan peternakan, aku ingin mengamalkan ilmuku. Segala perjuangan telah ku tempuh, mencari kerja kesana-kemari, mungkin Tuhan belum memberi ijin padaku sehingga sampai detik ini aku belum diperkenankan menjadi seorang bisnis yang sukses. Sedih memang, tapi puji Tuhan aku sangat menikmati pekerjaanku saat ini sebagai penjual bakso.

Hidup di perantauan banyak memberiku pengalaman berarti. Jauh dari orang tua membuatku bisa hidup lebih mandiri, bisa menabung untuk sekedar memberi sedikit harapan pada orang tua. Bisa lebih berani untuk keluar rumah sendiri dan yang pasti mempunyai pengalaman kerja yang luar biasa. Di sisi lain aku hanya seorang laki biasa. Namun hari ini, tiba-tiba aku sangat merindukan ayah dan ibuku beserta adik-adikku yang masih kecil. Semoga mereka baik-baik saja di kampung. Haleluya dalam waktu dekat ini aku akan pulang kampung melepas rasa rinduku pada mereka. Aku akan buktikan bahwa aku di sini juga baik-baik saja dan pastinya aku ingin membanggakan orang tuaku.

Sekian ceritaku tentang suka duka merantau di tanah orang, semoga yang membaca ini jadi terinspirasi. amin 

Tidak ada kata menyerah. Tidak ada kata menyalahkan atas kemiskinannya. Tidak ada kata kecewa dan keluhan. Tidak ada kesombongan. Tidak ada kebencian. Tidak ada kedurhakaan kepada orang tua. Tidak ada kata memanjakan anak-anaknya. Tidak ada kata malas. Tidak ada kata tidak bisa. Tidak ada behenti, terus berlari. Tidak ada kata tidak layak. Tidak ada kata nyaman. Tidak ada kata tidak bersyukur. Kecuali kata terima kasih Ya Allah atas segala-galanya. Itulah gambaran Sang Inspirator : by wanimbowakerkwa


Tidak ada komentar:

Posting Komentar