SUKA DUKA MERANTAU DI
TANAH ORANG
Hari ini aku menangis
sesenggukan, bukan karena putus cinta, bukan seperti itu. Ini mungkin lebih
rumit daripada yang aku bayangkan
Dulu,
Setelah aku lulus SMA,
aku putuskan untuk merantau MALANG. Orang tuaku pasti tidak menyetujui, dan
benar adanya. Orang tua mana yang ingin kehilangan anak laki-laki pergi meratau
ke kota orang yang tak ada saudara satupun di sana. Tapi aku bersikukuh untuk
tetap melanjutkan anganku untuk bisa mendapatkan penagalaman yang banyak. Orang tuaku murka,
terutama ayahku. Ayah yang sangat menyayangiku itu aku biarkan berlinang air
mata melepas kepergianku. Aku memang terlalu egois, tak pernah mendengar
nasihat orang tua, tak pernah mendengar kata-kata dari setiap orang tentang
kejamnya Malang.
Kini, waktu semakin
cepat berlalu. Tak terasa sudah enam tahun aku berada di tanah orang, jauh dari
ayah, ibu dan adikku. Di sini aku bekerja sebagai penjual bakso di sebuah warung yang bergerak di bidang bisnis. Karena kecintaanku
terhadap dunia bisnis, aku mulai mencari peluang untuk melamar kerja menjadi
seorang bisnis. Sebagaimana pendidikan yang pernah aku tempuh dulu sewaktu
kuliah yang memang mengambil jurusan peternakan, aku ingin mengamalkan ilmuku.
Segala perjuangan telah ku tempuh, mencari kerja kesana-kemari, mungkin Tuhan
belum memberi ijin padaku sehingga sampai detik ini aku belum diperkenankan menjadi
seorang bisnis yang sukses. Sedih memang, tapi puji Tuhan aku sangat menikmati
pekerjaanku saat ini sebagai penjual bakso.
Hidup di perantauan
banyak memberiku pengalaman berarti. Jauh dari orang tua membuatku bisa hidup
lebih mandiri, bisa menabung untuk sekedar memberi sedikit harapan pada orang
tua. Bisa lebih berani untuk keluar rumah sendiri dan yang pasti mempunyai
pengalaman kerja yang luar biasa. Di sisi lain aku hanya seorang laki biasa. Namun
hari ini, tiba-tiba aku sangat merindukan ayah dan ibuku beserta adik-adikku
yang masih kecil. Semoga mereka baik-baik saja di kampung. Haleluya dalam waktu
dekat ini aku akan pulang kampung melepas rasa rinduku pada mereka. Aku akan
buktikan bahwa aku di sini juga baik-baik saja dan pastinya aku ingin
membanggakan orang tuaku.
Sekian ceritaku tentang
suka duka merantau di tanah orang, semoga yang membaca ini jadi terinspirasi.
amin
Tidak ada kata menyerah.
Tidak ada kata menyalahkan atas kemiskinannya. Tidak ada kata kecewa dan
keluhan. Tidak ada kesombongan. Tidak ada kebencian. Tidak ada kedurhakaan
kepada orang tua. Tidak ada kata memanjakan anak-anaknya. Tidak ada kata malas.
Tidak ada kata tidak bisa. Tidak ada behenti, terus berlari. Tidak ada kata
tidak layak. Tidak ada kata nyaman. Tidak ada kata tidak bersyukur. Kecuali
kata terima kasih Ya Allah atas segala-galanya. Itulah gambaran Sang Inspirator
: by wanimbowakerkwa



Tidak ada komentar:
Posting Komentar