TEKUN
I. TEKUN ADALAH
KONSTAN, TERUS-MENERUS, BERKESINAMBUNGAN
1. Tekun Baru
Dapat Merampungkan Perkara yang Berharga
a. Hayat
tumbuh-tumbuhan dan hayat hewan yang pertumbuhannya lebih lama, lebih lambat,
hayatnya lebih tinggi dan lebih berharga.
b. Bangunan yang lebih
tinggi, besar, megah, mengagumkan, jangka waktu pembangunannya lebih lama.
Inilah arti pepatah kuno: Roma bukan terbangun dalam satu hari. Bait Suci
orang Yahudi tinggi, besar, dan megah, dibangun selama 46 tahun (Yoh. 2:28).
Nuh membangun bahtera, tidak mempedulikan ejekan orang lain, setiap hari
menggarap tidak tahu berapa tahun baru bisa selesai.
c. Pepatah mengatakan,
”Tekun adalah modal kesuksesan.” Tetesan air membuat batu berlubang, sebatang
besi diasah menjadi jarum, semuanya itu terjadi karena ada ketekunan. Nehemia
membangun tembok kota ,
meskipun mengalami banyak kesulitan, ia tetap membangun kembali dengan tekun,
sehingga akhirnya pekerjaan besar itu rampung (Neh. 5:16; 6:1).
Seorang saudara, ketika remaja, pernah mendaki sebuah gunung
bersama dengan teman-temannya. Di gunung itu terdapat suatu tebing yang
rimbun; mereka beristirahat di tebing yang rimbun itu. Dalam ketenangan alam,
terdengar suara ”tung, tung, tung” yang jelas, kira-kira setengah menit sekali.
Karena terdorong rasa ingin tahu, mereka menuju ke arah suara itu, mencari
sumber suara itu. Akhirnya mereka menemukan bahwa dari atas gunung itu ada air
yang terus-menerus menetes. Setelah bertahun-tahun, tetesan-tetesan air itu
membentuk suatu rongga yang dalam pada batu cadas yang di bawahnya. Ditambah
suara gaung dari tebing, timbullah suara yang merdu. Mereka sangat tertarik
akan pendengaran itu dan tinggal agak lama di tempat itu. Tetesan air yang
lembut, lewat kurun waktu yang panjang, bisa melubangi batu cadas yang keras.
Orang yang tekun baru bisa sukses. Kalau tidak konstan, sering berhenti di
tengah jalan, pasti tidak akan berhasil.
”606” adalah semacam obat dari persenyawaan arsenik yang bisa
membunuh kuman tetapi tidak berbahaya bagi tubuh manusia. Obat ini ditemukan
oleh seorang dokter muda. Sebelumnya ia telah mencoba 605 macam persenyawaan
arsenik, tetapi tidak berhasil. Sampai tahun 1910, ia mencoba persenyawaan
arsenik yang ke-606, barulah berhasil. Sebab itu, obat itu disebut ”606” karena
telah melewati 605 kali kegagalan dan baru berhasil pada percobaan yang ke-606.
Karena dokter muda itu tekun mengadakan percobaan, akhirnya ia berhasil menemukan
obat tersebut.
Ketika mencoba membuat kawat pijar dalam bola lampu, Thomas
Alfa Edison pernah memakai ribuan macam bahan, semuanya tidak cocok, namun
akhirnya ia menemukan bahan yang paling cocok dan tahan lama, yaitu kawat
wolfram.
Webster adalah orang Amerika yang menyusun kamus Webster yang
dipakai secara luas di dunia. Kamus itu ia susun dengan bersandar Allah dan
ketekunan. Ia mulai menyusun kamusnya pada tahun 1800, meskipun pernah
mengalami kegagalan, akhirnya berhasil dirampungkan. Sekitar tahun 1806, ia
menerbitkan edisi yang pertama. Di dalamnya ada 5.000 kata
yang belum pernah dijelaskan oleh penyusun kamus sebelumnya. Kamus itu terus
dikritik orang, tetapi ia tidak mundur, terus melakukan perbaikan. Dua puluh
tahun selanjutnya, ia tetap dengan tekun duduk di meja setengah lingkaran yang
mengitarinya, mencurahkan segala kemampuan menggumuli perbaikan itu. Di meja
itu tertumpuk banyak macam buku tata bahasa, dan berbagai macam versi kamus. Ia
membacanya dengan teliti satu per satu, memeriksa dengan teliti setiap kata,
kemudian dengan kata-katanya sendiri menulis arti kata itu. Akhirnya pada tahun
1828, ia merampungkan karya besar itu, kamus besar Webster, mengumpulkan 70.000
kata, lebih banyak 12.000 kata daripada kamus Yohanes Samuel edisi yang
terakhir. Ketika ia selesai menyusun kata yang terakhir dari kamus itu, ia
meletakkan pena bulunya, lalu menggandeng tangan istrinya, bersama-sama
berlutut bersyukur kepada Allah yang memberinya hikmat dan kekuatan, sehingga
ia bisa menyelesaikan karya besar itu. Sampai sekarang kamus Webster masih
digemari orang, dipandang sebagai jawaban terakhir dari semua definisi arti
kata. Dengan bersandar Allah dan ketekunan, Webster merampungkan karya itu.
Di setiap negara, banyak terjemahan Alkitab yang dikerjakan
oleh orang yang tekun, misalnya J. N. Darby. Allah memakainya menerjemahkan Alkitab ke dalam bahasa Italia, Prancis,
Inggris, dan Jerman. Untuk menerjemahkan Alkitab dan mempertimbangkannya,
setiap ayat memerlukan waktu belasan jam. Alkitab bahasa Mandarin setiap
ayatnya rata-rata menghabiskan waktu sebelas jam. Kalau tidak dikerjakan dengan
tekun, bagaimana bisa merampungkannya? Ketika Cruden membuat konkordansi
Alkitab, ia menemui banyak kesulitan. Setelah melakukan sejangka waktu, karena
otaknya tidak tahan, ia menjadi gila. Setelah beristirahat 6 tahun, ia
berangsur-angsur sembuh, lalu mulai mengerjakan lagi. Akhirnya ia menyelesaikan
konkordansinya. Konkordansi Cruden adalah konkordansi yang pertama, konkordansi
yang lainnya dibuat berdasarkan konkordansi Cruden.
2. Membangun
Gereja Adalah Pekerjaan yang Besar, Perlu Waktu dan Ketekunan
Membangun gereja adalah satu-satunya karya besar Allah dalam
alam semesta ini. Selama beribu-ribu tahun Allah terus mengerjakan hal ini,
sampai kota
Yerusalem Baru datang, baru selesai. Allah melakukan dengan tekun, sampai
kehendak-Nya selesai. Tuhan Yesus berkata, ”Bapa-Ku
bekerja sampai sekarang, maka Aku pun bekerja juga” (Yoh.
5:17).
Hari ini, di dalam gereja kita dibangunkan bersama-sama
menjadi tempat kediaman Allah di dalam roh, tidak ada kursus kilat, tidak ada
jalan pintas, tidak ada untung-untungan. Pada mulanya, gereja terbangun pada
hari raya Pentakosta, orang-orang yang beroleh selamat bertekun dalam
pengajaran rasul-rasul dan dalam persekutuan. ”Mereka selalu berkumpul untuk
memecahkan roti dan berdoa” (Kis. 2:42). ”Dengan bertekun dan sehati
mereka berkumpul tiap-tiap hari dalam Bait Allah. Mereka memecahkan roti di
rumah masing-masing secara bergiliran . . .
” (Kis. 2:46). Membangun gereja perlu dengan tekun, perlu
dikerjakan setiap hari. Jangan mengharapkan bisa segera melihat hasilnya.
Untuk membangun rumah, perlu menyusun batu bata satu per
satu. Untuk membangun tempat kediaman Allah yang demikian besar, perlu satu per
satu batu hidup disusun menjadi satu (1 Ptr. 2:5). Hal ini tidak bisa terjadi
dalam sekejap mata; ini memerlukan waktu yang lama dan dikerjakan dengan tekun.
Bait Suci yang sebagai lambang saja perlu 46 tahun baru bisa selesai; apa lagi
Bait Suci rohani yang sesungguhnya, memerlukan kurun waktu dari zaman ke zaman
baru bisa rampung.
Dalam Efesus 4:11-16 Paulus membicarakan pembangunan gereja,
”Dialah yang memberikan baik rasul-rasul maupun nabi-nabi, baik
pemberita-pemberita Injil maupun gembala-gembala dan pengajar-pengajar, untuk
memperlengkapi orang-orang kudus bagi pekerjaan pelayanan, bagi pembangunan Tubuh
Kristus, sampai kita semua telah mencapai kesatuan iman dan pengetahuan yang benar tentang Anak Allah,
kedewasaan penuh, dan tingkat pertumbuhan yang sesuai dengan kepenuhan
Kristus . . . Dari Dialah seluruh Tubuh — yang rapi tersusun dan diikat menjadi
satu oleh pelayanan semua bagiannya, sesuai dengan kadar pekerjaan tiap-tiap
anggota — menerima pertumbuhannya dan membangun dirinya dalam kasih.”
Setiap orang kudus perlu diperlengkapi, setiap orang kudus perlu rapi tersusun;
ini perlu waktu, perlu dikerjakan dengan tekun. Pengalaman memberi tahu kita
bahwa untuk membangun satu orang kudus mengenal Anak Allah,
membawa orang kudus masuk ke dalam koordinasi, itu bukanlah perkara yang
gampang, memerlukan banyak waktu, dan juga perlu mengeluarkan banyak tenaga.
Sebab itu Paulus berkata, ”Hai anak-anakku, karena kamu aku menderita sakit
bersalin lagi, sampai rupa Kristus menjadi nyata di dalam kamu” (Gal.
4:19). Ada
begitu banyak orang kudus perlu diperlengkapi, dan itu memerlukan waktu sangat
banyak juga memerlukan tenaga dan perhatian yang sangat besar! Mana mungkin
tercapai apabila tidak dikerjakan dengan tekun?
Kita harus nampak, membangun gereja adalah perkara yang
paling tinggi, paling mulia, dan paling berharga dalam alam semesta, karena itu
patut kita pertaruhkan segalanya, dan bertekun melakukannya.
3. Pertumbuhan
Hayat Rohani Memerlukan Waktu dan Ketekunan
Kita adalah ladang Allah (1 Kor. 3:9), yang Allah garap
dengan tekun; dibajak, dirawat, disirami, menunggu bertumbuh, masak, dan
dituai. Sama seperti petani menantikan hasil
yang berharga dari tanahnya (Yak. 5:7). Jangan sekali-kali tergesa-gesa di
dalam daging, jangan terburu-buru. Yakub berkata kepada Esau, ”Tuanku
maklum, bahwa anak-anak ini masih kurang kuat, dan bahwa beserta aku ada kambing
domba dan lembu sapi yang masih menyusui, jika diburu-buru, satu hari saja,
maka seluruh kumpulan binatang itu akan mati . . . aku mau dengan hati-hati
beringsut maju menurut langkah hewan, yang berjalan di depanku dan menurut langkah anak-anak . . .” (Kej. 33:13-14). Pertumbuhan hayat memerlukan waktu, tergantung
pada kita dengan tekun menuntut, sering menyirami, memberi makan, merawat,
dengan sendirinya bertumbuh sehari demi sehari. Jangan membantu tunas
tumbuh-tumbuhan dengan mencabutnya.
4. Tuhan Adalah
Tuhan yang Tekun
”Bapa-Ku bekerja sampai sekarang”
(Yoh. 5:17). Allah sangat tekun, Ia tidak pernah berhenti di tengah jalan.
Meskipun Iblis mengganggu, Ia tetap bekerja sampai sekarang, sampai
kehendak-Nya rampung. Ia telah menetapkan kehendak-Nya, Ia pasti melakukannya,
sampai kehendak itu rampung.
Tuhan Yesus berkata, ”Bapa-Ku bekerja sampai sekarang,
maka Aku pun bekerja juga” (Yoh. 5:17). Ketika di bumi Tuhan bekerja,
sampai sekarang di surga Ia tetap bekerja. ”Melayani ibadah di tempat kudus,
yaitu di dalam kemah sejati” (Ibr. 8:2). Setiap hari Ia berdoa untuk kita. ”Sebab Ia
hidup senantiasa untuk menjadi Pengantara mereka” (Ibr. 7:25). ”Yesus
Kristus tetap sama, baik kemarin maupun hari ini dan sampai selama-lamanya”
(Ibr. 13:8).
II. DALAM
KEHIDUPAN, PEKERJAAN, DAN PELAYANAN BERLATIH MEMPUNYAI KARAKTER TEKUN
1. Tekun Membaca
Alkitab
Untuk pertumbuhan hayat, manusia perlu setiap hari makan,
setiap hari makan tiga kali. Pertumbuhan hayat rohani juga
perlu setiap hari makan firman Allah, makanan rohani. Tidak bisa makan kenyang
sehari, lalu lapar enam hari.
Ingin mendapatkan terang dari Alkitab, perlu dengan tekun
membaca Alkitab, tidak hentinya membaca, berkali-kali membaca, demikian baru
akan mendapatkan terang. Banyak hal yang sulit dipahami dalam Alkitab, tetapi
karena dengan tekun membaca Alkitab, akhirnya mendapatkan terang yang baru.
Hudson Taylor sejak remaja telah membaca Alkitab dengan
berurutan. Sampai usia 68 tahun ia bersaksi, selama 40 tahun ia sudah membaca
Alkitab, dari kitab Kejadian sampai kitab Wahyu, sebanyak 40 kali. Kira-kira
setiap hari membaca 3 pasal Perjanjian Lama, 1 pasal Perjanjian Baru, dan 1
pasal Mazmur.
George Muller seumur hidup membaca Alkitab seratus kali.
Ketika Martin Luther masih muda, ia sudah membaca Alkitab
berkali-kali, bahkan sangat hafal. Asal Anda menyebut salah satu perkataan, ia
segera tahu di mana tempat perkataan itu. Orang-orang di atas adalah contoh
yang baik dalam hal membaca Alkitab.
Orang di Berea
lebih baik hatinya daripada orang di Tesalonika, karena mereka menerima firman
itu dengan segala kerelaan hati dan setiap hari mereka menyelidiki Kitab Suci
(Kis. 17:11). Mereka bertekun, setiap hari menyelidiki; bukan sehari
menyelidiki, lalu beberapa hari tidak menyelidiki. Bukannya panas sehari,
namun dingin sepuluh hari.
2. Tekun Berdoa
Banyak tempat di dalam Alkitab yang berbicara mengenai tekun
berdoa. ”Bertekunlah dalam doa” (Rm. 12:12); ”Berdoalah setiap waktu
di dalam Roh dan berjaga-jagalah di dalam doamu
itu dengan permohonan yang tak putus-putusnya” (Ef. 6:18); “Bertekunlah dalam doa”
(Kol. 4:2); ”Tetaplah berdoa” (1 Tes. 5:16-17). Tuhan Yesus juga, dengan
perumpamaan seorang janda minta pembelaan, mendorong orang untuk tekun berdoa.
”Menegaskan bahwa mereka harus selalu berdoa tanpa jemu-jemu” (Luk.
18:1-8).
Berdoa seperti orang bernafas, tidak boleh terputus. Madame
Guyon berkata, berdoa adalah sumber segala kebajikan; meninggalkan berdoa sama
dengan meninggalkan sumber air hidup. Allah meninggalkan kita, karena kita terlebih
dulu meninggalkan Dia.
Dalam Kidung No. 201 dikatakan, ”Berdoa bagaikan menggali
perigi, terus menerus digali sampai air memancar dari sumbernya.”
Ketika Anda melihat keadaan rohani di tempat Anda gersang,
janganlah tawar hati, melainkan berdoalah dengan tekun, bekerjalah dengan tekun, berserulah kepada Tuhan, sampai Allah
datang memberi berkat, Roh Kudus bekerja hingga padang gurun menjadi telaga,
tanah kering memancarkan air, hayat berkembang biak, timbul suatu kebangunan
rohani.
Menjadi penjaga pembangunan gereja, harus tak hentinya
berseru. ”Di atas tembok-tembokmu, hai Yerusalem, telah Kutempatkan
pengintai-pengintai. Sepanjang hari dan sepanjang malam, mereka tidak akan
pernah berdiam diri. Hai kamu yang harus mengingatkan TUHAN kepada Sion,
janganlah kamu tinggal tenang dan janganlah biarkan Dia tinggal tenang, sampai
Ia menegakkan Yerusalem dan sampai Ia membuatnya menjadi kemasyhuran di bumi”
(Yes. 62:6-7).
Tuhan di surga senantiasa berdoa untuk kita (Ibr. 7:25).
Samuel tidak henti-hentinya berdoa untuk umat Allah (1 Sam. 12:22). Menghadapi
perkara besar, harus tidak henti-hentinya berdoa sampai Allah merampungkan hal
itu.
Spurgeon mempunyai seorang ayah yang baik, yang bergairah
melayani Tuhan, juga mempunyai seorang ibu yang sering berdoa untuknya. Pernah
sekali ibunya berlutut di depan Allah, dengan kedua tangan memeluk leher
Spurgeon, berdoa, ”Semoga anakku hidup di hadapan-Mu.” Ayahnya, karena terlalu
sibuk melayani tidak bisa merangkum untuk memelihara kerohanian anak-anaknya,
sehingga hatinya merasa risau. Tetapi ketika ia pulang, mendengar istrinya di
loteng sedang berdoa menyebut satu per
satu nama anaknya, ia terharu dan berkata, ”Ya Tuhan, saya boleh terus
memperhatikan pekerjaan-Mu, karena anak-anak-Mu telah ada yang merawatnya.”
Ibu John Wesley mempunyai anak sebanyak 19 orang, setiap hari
menggandeng seorang anak masuk ke ruang doa bersama-sama
berdoa. Kemudian hari, di antara 19 anak muncul dua orang penginjil
yang kenamaan, yaitu John Wesley dan adiknya Charles Wesley.
Orang-orang yang dipakai Allah secara besar-besaran, semuanya
karena ibu mereka sering dan tidak henti-hentinya berdoa untuk mereka.
Pada suatu hari di Boston ,
sebuah surat
kabar memuat sebuah iklan: Sebuah perusahaan mencari seorang tenaga kerja yang masih
muda. Tetapi isi iklan itu tidak jelas, alamatnya hanya nomor kotak pos, tidak
ada nomor teleponnya. Seorang pemuda segera menulis surat lamaran, dan menunggu dengan hati yang
tidak sabar. Surat pertama tidak mendapat
jawaban, lalu menulis surat
yang kedua, juga tidak ada balasan. Menulis surat yang ketiga, masih tidak ada kabar.
Kemudian ia bertekad pergi ke kantor pos Boston ,
menunggu pegawai perusahaan itu datang membuka kotak pos, lalu mengikuti
pegawai itu pergi ke kantor perusahaan itu untuk menemui direkturnya. Setelah
direktur itu mengetahui kisahnya, segera menerima dia sebagai karyawannya, dan
berkata kepadanya, ”Kami justru mencari orang yang ulet, yang mempunyai
ketekunan dan tekad seperti yang Anda miliki.” Pemuda ini adalah Roges Babson, yang
di kemudian hari menjadi salah satu pakar moneter di Amerika.
”Bertekunlah dalam doa” (Kol. 4:2).
Inilah kunci merampungkan perkara Allah dan mencapai tujuan Allah. Kalau kita
menghendaki Allah melakukan perkara tertentu, kita harus mempunyai doa yang
tekun. Jangan karena terganggu oleh sesuatu lalu berhenti, melainkan terus
berdoa dengan tidak henti-hentinya, sampai urusan itu rampung, dan tujuan
tercapai.
Dalam kehidupan berdoa, kegagalan yang umum adalah kurang
tekun. Kita mungkin mulai berdoa untuk sesuatu hal, memohon sehari, seminggu,
sebulan; kalau tidak ada hasilnya, lalu kecewa, mengira tidak ada harapan, lalu
tidak menyinggungnya lagi dalam doa. Ini adalah kesalahan yang paling besar.
Orang yang ada permulaan tetapi tanpa akhir, pasti tidak akan mempunyai hasil.
Jika mempunyai kebiasaan ada permulaan tetapi tanpa akhir, ini berarti
mempunyai nasib untuk gagal. Berdoa yang berhenti di tengah jalan juga
demikian.
Kekecewaan mendatangkan putus asa, putus asa mendatangkan
ketidakpercayaan, ketidakpercayaan mendatangkan kegagalan, semuanya ini adalah
titik lemah yang mematikan doa.
3. Tekun Berbuat
Baik
”Janganlah kita jemu-jemu berbuat baik, karena apabila sudah
datang waktunya, kita akan menuai, jika kita tidak menjadi lemah. Karena itu,
selama masih ada kesempatan bagi kita, marilah kita berbuat baik kepada semua
orang, tetapi terutama kepada saudara-saudara seiman kita”
(Gal. 6:9-10). ”Lakukanlah apa yang baik bagi semua orang!
Sedapat-dapatnya, kalau hal itu bergantung padamu, hiduplah dalam damai dengan
semua orang!” (Rm. 12:17b-18).
Berbuat baik kepada orang, membantu orang, hidup dalam damai
dengan semua orang, kalau dikerjakan dengan tekun, pada suatu hari pasti ada
buahnya. Mungkin ada orang karena hal-hal itu, lalu percaya Tuhan, didapatkan
oleh Anda, mungkin ada orang yang karena hal-hal itu terdorong mengasihi Tuhan,
menuntut Tuhan, melayani Tuhan, terbina oleh Anda.
Madame Guyon sangat mengasihi orang-orang miskin, sering
melayani mereka, memberi sedekah kepada mereka. Pada suatu musim dingin di
tahun yang panennya gagal, justru memberi kesempatan kepadanya untuk memberikan
sedekah. Setiap minggu, roti-roti yang ia berikan kepada orang dari rumahnya
sampai 90 lusin, belum terhitung yang diberikan secara pribadi kepada orang
yang menderita, jumlahnya sangat banyak. Tuhan memberkatinya, meskipun memberi
sedekah begitu banyak, ia tidak rugi. Ia berkata, ”Di dunia ini banyak
pengeluaran, kalau bisa digunakan dengan tepat, banyak orang miskin akan
mendapat kehangatan, yang memberi sedekah pun tidak akan kekurangan, karena
Allah akan memberikan yang lebih kepadanya.” Melaluinya, Tuhan menolong banyak
orang.
4. Tekun
Menuntut Kerohanian
”Ia akan membalas setiap orang menurut
perbuatannya, yaitu hidup kekal kepada mereka yang dengan tekun berbuat baik,
mencari kemuliaan, kehormatan dan ketidakbinasaan” (Rm. 2:6-7).
Penuntutan duniawi sifatnya rendah dan bisa binasa; penuntutan rohani baru
mulia, terhormat, kekal, dan tidak bisa binasa. Sebab itu, kita harus bertekun
menuntut kerohanian, Allah pasti membalasnya dengan hidup kekal. Harus menuntut dengan tekun, jangan sebentar lesu,
sebentar lagi gairah; hari ini mau, besok tidak mau lagi.
5. Tekun
Melayani, Tekun Bekerja
”Karena itu, Saudara-saudaraku yang terkasih, berdirilah teguh,
jangan goyah, dan giatlah selalu dalam pekerjaan Tuhan! Sebab kamu tahu bahwa
dalam persekutuan dengan Tuhan jerih payahmu tidak sia-sia”
(1 Kor. 15:58). Jerih payah orang dunia bisa sia-sia. ”Ya, setiap manusia
hanyalah kesia-siaan! Ia hanyalah bayangan yang berlalu! Ia hanya
mempeributkan yang sia-sia dan menimbun, tetapi tidak tahu, siapa yang
meraupnya nanti” (Mzm. 39:6b-7). Tetapi jerih payah kita di dalam Tuhan
tidak sia-sia, tinggal sampai kekal. Sebab itu, berdirilah teguh, jangan goyah,
kerjakan dengan tekun. Tekun berarti biarpun urusan itu bagaimana, masih terus
dikerjakan, terus dilakukan. Bukan kalau senang lalu mengerjakan, tidak senang
lalu tidak mengerjakan; lancar lalu mengerjakan, tidak lancar lalu tidak
mengerjakan; siap sedia baik atau tidak baik waktunya (2 Tim. 4:2). Jangan
hanya panas-panas tahi ayam. Jangan seperti pejabat baru, bergairah pada
permulaan, tetapi tidak ada kelanjutannya. Jangan pertama-tama ketat, kemudian
kendur, selanjutnya tidak mempedulikan.
6. Tekun Bersandar
Tuhan, Tidak Putus Asa, Tidak Patah Semangat
Ketika Tuhan Yesus di bumi, Ia sering diejek, dimaki, ditentang, dan dianiaya karena kehendak Allah atau
perkara Allah, tetapi Ia tidak kecewa. ”Ia sendiri tidak akan menjadi
pudar dan tidak akan patah terkulai, sampai Ia menegakkan hukum di bumi;
segala pulau mengharapkan pengajaran-Nya” (Yes. 42:4).
Iblis sering membuat orang putus asa, patah semangat, tetapi
kita harus bersandar Tuhan berdiri teguh, tidak putus asa, tidak patah
semangat, tidak terkena muslihatnya. Meskipun gagal, jangan putus asa, jangan
lesu, kuatkanlah tangan yang lemah dan lutut yang goyah; dan luruskanlah jalan
bagi kakimu, bersandar Tuhan maju terus (Ibr. 10:38, 12:12-13). Dia adalah
Allah yang menghibur orang yang rendah hati (patah semangat) (2 Kor. 7:6), Ia bisa menghibur kita,
mendorong kita, supaya kita tidak karena kegagalan apa pun lalu patah semangat,
supaya kita menguatkan tangan yang lemah, meluruskan kaki yang penat.
Tujuan kita sudah pasti, meskipun di jalan ini ada banyak
kesulitan, meskipun jalannya semakin lama semakin sempit, tetapi pahala berada
di depan kita. Kidung No. 469 berbunyi, ”/Tak berapa jauh lagi, lerai penat dan
pedih/ . . . . /Dengar suara-Nya manis, ”Maju janganlah jeri! /Sebelum fajar menyingsing,
mungkin sudah berakhir/.”
Marilah kita melakukannya dengan mata yang tertuju kepada
Yesus, yang memimpin kita dalam iman dan membawa iman kita itu kepada
kesempurnaan; ingatlah selalu akan Dia, supaya jangan kita menjadi lemah dan
putus asa (Ibr. 13:2-3).

Tidak ada komentar:
Posting Komentar